Selasa, 01 Juli 2014

Mesjid2 Tertua di Minangkabau Tour

1. Surau Lubuk Bauk
Dibangun oleh masyarakat Nagari Batipuh Baruh dibawah koordinasi para ninik mamak pada tahun 1896 dan dapat diselesaikan tahun 1901. Bangunan yang bercorak Koto Piliang yang tercermin pada susunan atap dan terdapatnya bangunan menara, sarat dengan perlambang dan falsafah hidup ini memiliki peran besar dalam melahirkan santri dan ulama yang selanjutnya menjadi tokoh pengembang agama Islam di Sumatera Barat. Surau Nagari Lubuk Bauk berdiri di pinggir jalan raya Batusangkar Padang. Secara administratif terletak Desa Lubuk Bauk,Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar,Provinsi Sumatera Barat.Bangunan surau terletak lebih rendah ± 1 m dari jalan raya berbatasan dengan jalan raya Batusangkar Padang di bagian utara, kolam dan masjid di bagian timur, kolam dan rumah penduduk di bagian selatan, dan rumah penduduk di bagian barat.



2. Mesjid Bingkudu  
Masjid Bingkudu terletak di Dusun/Kampung Tigasuro, Desa Lima Suku Sawah, Kecamatan Empat Angkat Cadung, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.
Bangunan berbentuk panggung menggunakan konstruksi atap susun tiga ,Di bagian depan terdapat teras yang menghubungkan dengan bangunan menara.

Di dalam teras juga terdapat sebuah bedug berukuran panjang 3,10 m, diameter 60 cm, terbuat dari pohon kelapa. Mihrab masjid terdapat di sebelah barat menjorok keluar dari bangunan utama. Mimbar masjid tidak terdapat di dalamnya, tetapi terletak di depannya. Mimbar terbuat dari ukiran kayu dengan hiasan warna keemasan dibuat tahun 1906, berbentuk huruf 'L.'

 3. Mesjid 60 Kurang Aso
Masjid Kurang Aso Anam Puluah, sesuai dengan jumlah bilangan tonggak/tiangnya yang merupakan perwujudan dari jumlah Penghulu Induk/Nyinyiak orang Alam Surambi Sungai Pagu. Mereka inilah yang berperan aktip secara gotong royong membangun masjid ini.
Disini juga kita bisa negunjungi/Ziarah ke makan Syech Maulana Sofi, seorang ulama penyebar agama Islam yang sangat dihormati di wilayah ini, yang menjadi Imam sekaligus permakarsa berdirinya mesjid Kurang Aso 60

 4. Mesjid Asasi
Masjid ini didirikan oleh masyarakat dari 4 koto yaitu dari daerah Gunuang, Paninjauan, Jaho dan Tambangan. Masjid Asasi pernah dijadikan sebagai basis pengembangan Islam terutama mengembangkan Madrasah Thawalib Gunuang. Tokoh-tokoh seperti Buya HAMKA pernah menggelar pengajian disini. Masjid Asasi memiliki 3 motif ukiran dari aliran yang berbeda yaitu Hindu, China dan Minangkabau.

 5. Mesjid Sa'adah
salah satu masjid tertua di Indonesia yang terletak di Nagari Gurun, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Di dalam ruangan, terdapat empat tiang utama sebagai penopang atap dengan penyangga yang tidak menggunakan besi, melainkan hanya menggunakan bambu. Menurut masyarakat setempat, jumlah tiang yang sebanyak empat merupakan perlambangan kata dalam adat Minangkabau, yaitu kata melereng, kata mendatar,kata mendaki, dan kata menurun.

Menurut masyarakat setempat, atap tersebut bersusun lima sebagai bentuk perlambangan lima suku pada waktu itu, yaitu Koto, Piliang, Bendang, Koto Anyiah, dan Pitopang.

 6. Mesjid Badano
Menjadi suatu keajaiban bahwa air yang ada didalam guci sejak dahulunya tidak pernah kering, selalu terisi air bersih hingga leher guci. Menjadi ritual oleh lapisan masyarakat di sekitar Sungai Rotan, dan bahkan dari daerah yang jauh mereka dengan sengaja melaksanakan acara turun mandi anak, dengan memanfaatkan air yang terdapat dalam guci besar badano ini. Sering kali air dalam guci ini diambil sebagai obat, dan bila seseorang sedang menderita sakit dalam yang cukup lama, kaum keluarganya membawa dan memandikan sisakit dengan air guci ini malam hari. Sekarang Guci Besar Badano tetap diminati oleh banyak orang yang datang dari berbagai tempat, yang ingin mendapatkan kasiat dan keistimewaan air dari guci keramat itu.

 7. Mesjid Balai Gadang Nan Tuo
Masjid ini berlokasi di Kelurahan Blai Nan Duo, Kecamatan Payakumbuh.
Bangunan atap bersusun tiga menyerupai pyramid, dan berbahan dasar kayu dan atap adun Kelap.Pemugaran atap juga dilakukan dengan mengubah bentuk atap menjadi Bagonjong dan berjendela. Ukuran masjid menjadi 20 x 20 M, Jumlah tiang sebanyak 48 buah dan terbuat dari bahan kayu Juar, Lantai terbuat dari papan yang mempunyai ketinggian 1,2 M dari tanah. Masjid ini berbentuk panggung dan mempunyai satu pintu keluar masuk jamaah.